Fenomena Bulan Ramadhan

Berdasarkan Riwayat Bukhari yang dikisahkan Siti Aisyah RA, Rosulullah SAW membagi bulan Ramadhan menjadi dua fase, yaitu dua puluh hari pertama dan sepuluh hari terakhir, di mana Rosulullah meningkatkan ibadahnya menjelang penghabisan bulan penuh mulia ini.  Pada dua puluh hari pertama, Rosulullah melakukan ibadah secara intensif, dan pada sepuluh hari terakhir, Rosulullah akan “tancap gas” dalam beribadah. Pada sepuluh hari terakhir ini memang dianjurkan untuk meningkatkan ibadah karena selain menjelang penghabisan bulan Ramadhan, di sepuluh hari terakhir juga ada peristiwa Lailatul Qodar yang amalan pahalanya bagi mereka yang beribadah akan sangat luar biasa yaitu sama dengan beribadah 1000 bulan.  Jadi selama bulan Ramadhan ini Rosulullah semakin giat melaksanakan ibadah dan lebih giat lagi menjelang 10 hari terakhir.  Para sahabat pun turut meneladani sikap Rosulullah ini.  Mereka ramai-ramai memakmurkan masjid terutama pada sepuluh hari terakhir. Lalu bagaimana dengan di Indonesia saat ini?

  1. Ini fenomena bulan Ramadhan yang terjadi di Indonesia:Minggu pertama Ramadhan, semua orang sangat bersemangat menjalankan ibadah istimewa yang hanya satu tahun sekali ini.  Semua orang berubah menjadi tenang, kalem dan begitu antusias menjalanlan ibadah shaum dan ibadah yang lainnya.  Masjid-masjid penuh sesak dengan orang-orang yang akan menjalankan sholat taraweh bahkan hingga luber ke jalan-jalan.  Tadarus ramai dijalankan.
  2. Minggu kedua Ramadhan, sebagian orang mulai kembali kepada sikapnya sebelum Ramadhan, sebagian mulai gelisah memikirkan persiapan lebaran… rencana beli baju baru…buat kue… menghitung anggaran lebaran dan menyusun jadwal mudik mulai disiapkan.  Masjid-masjid mulai kekurangan jamaah.
  3. Minggu ketiga Ramadhan, banyak orang yang semakin bernafsu untuk mengumpulkan uang sebagai bekal lebaran… bernafsu untuk beli baju baru… untuk buat kue … beli oleh-oleh mudik dan yang lainnya.  Masjid-masjid semakin kekurangan jamaah sementara mall-mall dan pusat perbelanjaan lainnya mulai padat oleh pengunjung.
  4. Minggu keempat Ramadhan, semakin banyak orang yang bernafsu untuk mengumpulkan uang sebagai bekal lebaran, bekerja kesana kesini untuk mendapatkan tambahan uang, sebagian lagi semakin bernafsu untuk segera membeli baju baru… setiap ada obral di toko-toko langsung dikejar, sibuk memikirkan dan memilih baju apa yang akan dipakai saat lebaran nanti, perhiasan apa yang akan digunakan saat lebaran nanti, kue-kue apa yang akan dibuat … bahkan ada yang memikirkan membeli atau menyewa mobil untuk mudik agar dipandang sukses oleh warga di daerah asal. Sebagian lagi sibuk mudik.  Sepertinya sebagian besar orang begitu bernafsu untuk mempersiapkan hari lebaran ini, sehingga karena kelelahan belanja, membuat kue, bekerja dan mudik  ada yang rela membatalkan puasa, melupakan tadarus Al-Qur’an, bahkan ada yang lupa sholat karena keasyikan belanja di mall-mall.  Masjid-masjid kosong… atau hanya tersisa 1 dan 2 saff saja sementara mall-mall dan pusat perbelanjaan lainnya penuh sesak oleh pengunjung.

Dan pada hari Ied yang suci semua orang merayakan Hari Kemenangan… memakai baju yang paling baru…berhias sedemikian rupa…mengeluarkan penganan yang enak-enak…seolah-olah kemenangan memang sudah ditangan.  Kebanyakan orang lupa dengan makna Ramadhan…lupa bahwa di suatu tempat masih ada orang yang bahkan untuk bertahan hidup saja sudah sangat sulit.  Kebanyakan orang melampiaskan syahwat perut pada hari itu setelah dikendalikan selama satu bulan dengan makan sepuasnya dan dengan makanan yang enak-enak. Apakah sebetulnya yang dirayakan pada Iedul Fitri itu?  Apakah Iedul Fitri itu dirayakan dengan pesta? Apakah Iedul Fitri itu dirayakan dengan baju baru?  Begitukah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW?  Rasulullah SAW hanya menyuruh kita untuk memakai pakaian yang terbaik, bukan yang terbaru karena Rasulullah SAW tahu bahwa ada sebagian orang yang tidak bisa membeli baju baru, jika kita diperintahkan oleh Rasulullah SAW memakai baju baru pada Iedul Fitri akan memberatkan mereka. Iedul Fitri memang hari besarnya umat Islam tetapi Iedul Fitri bukanlah hari berpestanya umat Islam, hari berpestanya umat Islam adalah Iedul Adha. Lalu apa yang dirayakan pada Iedul Fitri itu?  Apakah kita merayakan kebebasan setelah dibelenggu sedemikian rupa selama Ramadhan?  Apakah kita merayakan kemenangan yang sudah kita raih?  Benarkah kita telah meraih kemenangan?  Tahu dari mana bahwa kita memang telah meraih kemenangan?  Bukankah yang tahu bahwa shaum kita diterima itu hanyalah Allah?  Seandainya memang kita telah meraih kemenangan, merasa diri telah meraih kemenangan merupakan sikap riya, dan itu pada hakekatnya kita telah gagal.   Begitukah caranya merayakan Hari Kemenangan?  Apakah Hari Kemenangan dirayakan dengan cara makan besar dan memakai baju baru?  Tetapi pertanyaannya sekali lagi adalah, Benarkah Kita Telah Meraih Kemenangan? Pada Iedul Fitri seharusnya kita lebih banyak bertafakur, merenungi semua kesalahan dan kekeliruan kita selama shaum Ramadhan dan selama 1 tahun kebelakang.  Iedul Fitri seharusnya menjadi starting point untuk melakukan perubahan selama satu tahun kedepan, dan bukannya menjadi ending point karena lepas dari rasa terbelenggu oleh lapar, haus, pengendalian diri dan sebagainya semasa Ramadhan.

Apa artinya shaum kalau Ramadhan belum lagi usai kita sudah begitu bernafsu membeli baju baru, menyiapkan kue-kue untuk persiapan lebaran dan sebagainya? Apa hasilnya setelah Ramadhan usai kalau saat masih Ramadhan saja kita tidak bisa mengendalikan hawa nafsu kita? Bukankah salah satu hakekat Ramadhan adalah belajar mengendalikan hawa nafsu?   Sungguh suatu ironi… kebanyakan orang sepertinya lebih bersemangat untuk menyambut lebaran dengan mempersiapkan baju baru, penganan lebaran dan lainnya dibandingkan dengan mengisi sisa Ramadhan dengan menjalankan amalan-amalan ibadah.  Ramadhan baru berjalan beberapa hari sebagian orang sudah memikirkan akan lebaran kemana, memikirkan baju baru untuk dipakai lebaran, memikirkan kue-kue yang harus disiapkan untuk lebaran dan sebagainya, seolah-olah tujuan akhir Ramadhan adalah lebaran.  Sebagian orang malah mulai mempersiapkan kebutuhan lebaran jauh sebelum Ramadhan tiba, tetapi tidak pernah memikirkan hendak diisi apa Ramadhan kali ini.  Padahal … beli baju …bikin penganan masih bisa dilakukan kapan saja dan tidak akan berpengaruh sedikit pun dengan kemenangan usai Ramadhan, kita tidak mengalami kerugian sedikitpun jika tidak membeli baju baru atau membuat penganan lebaran, tidak berpengaruh sedikitpun terhadap akherat kita.  Sedangkan Ramadhan hanya berlangsung satu kali dalam setahun …. jika kehilangan amalan Ramadhan kali ini… kita akan rugi di akherat …terutama karena tahun depan belum tentu kita diberikan kesempatan bertemu Ramadhan lagi.

Jika kebetulan ada yang mampir dan membaca catatan ini, selagi Ramadhan masih tersisa mari kita jaga Ramadhan ini dengan melaksanakan ibadah sebaik-baiknya, jangan biarkan hawa nafsu kita mengendalikan kita sehingga lupa amalan-amalan yang harus kita jalankan selama Ramadhan.  Kemenangan usai Ramadhan tidak ditentukan oleh pakaian yang paling mahal, tidak juga ditentukan oleh pakaian yang paling baru dan paling indah.  Nikmatnya kemenangan tidak bisa diungkapkan dengan makanan yang paling enak.  Kemenangan hanya bisa dilihat dari perubahan sikap ke arah yang lebih baik usai Ramadhan.   Jangan sia-siakan ibadah yang hanya berlangsung satu tahun sekali ini … karena tahun depan … belum tentu kita akan bertemu bulan Ramadhan lagi.

wallahu alam bishowab

Tinggalkan Balasan